Powered By Blogger

Sabtu, 21 Januari 2012

KEKUASAAN, WEWENANG & KEPEMIMPINAN

Kekuasaan mempunyai peranan yg dapat menentukan nasib berjuta-juta manusia.  Oleh sebab itu menarik perhatian sosiologi, tetapi sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi tidak memandang kekuasaan sebagai sesuatu yg baik atau buruk.  Sosiologi mengakui kekuasaan sebagai unsur yg sangat penting dalam kehidupan suatu masyarakat, baik buruknya senantiasa harus diukur dg kegunaannya untuk mencapai tujuan yg sudah ditentukan (disadari) oleh masyarakat.  Kekuasaan ada pada setiap masyarakat, tetapi tidak terbagi secara merata, makanya timbul makna pokok dari kekuasaan yaitu kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yg ada pada pemegang kekuasaan.
          Apabila kekuasaan dijelmakan pada diri seseorang, dinamakan pemimpin, yg menerima pengaruh adalah pengikut.  Beda antara kekuasaan (power) dg wewenang (authority atau legalized power) ialah bahwa setiap kemampuan untuk mempengaruhi fihak lain dapat dinamakan kekuasaan.  Sedangkan wewenang adalah kekuasaan yg ada pada seseorang atau sekelompok orang, yg mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat.
          Pada masyarakat bersahaja (desa atau masyarakat hukum adat) umumnya antara kekuasaan melebur dg wewenang, kekuasaannya meliputi bermacam bidang, seperti bidang pemerintahan, ekonomi dan sosial.  Tetapi pada masyarakat yg kompleks, dimana terlihat berbagai sifat dan tujuan hidup golongan yang berbeda-beda dan kepentingan yang tidak selalu sama, maka kekuasaan terbagi kepada beberapa golongan.  Contohnya perbedaan kekuasaan politik, militer, ekonomi, agama, dst.

Hakikat kekuasaan dan sumbernya
          Menurut Max Weber kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-kemauannya sendiri, dengan sekali gus menerapkannya terhadap tindakan –tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan tertentu.  Kekuasaan mempunyai aneka macam bentu, dan bermacam-macam sumber.  Hak milik kebendaan dan kedudukan adalah sumber kekuasaan.  Birokrasi juga merupakan salah satu sumber kekuasaan, disamping kemampuan khusus dalam bidang ilmu-ilmu pengetahuan yang tertentu ataupun atas dasar peraturan-peraturan hukum yang tertentu.
Kekuasaan tertinggi berada pada organisasi yang dinamakan ”negara”.  Secara formal negara mempunyai hak untuk melaksanakan kekuasaan tertinggi, juga membagi-bagikan kekuasaan yang lebih rendah derjatnya.  Itulah yang dinamakan kedaulatan (sovereignity).  Kedaulatan biasanya dijalankan oleh segolongan kecil masyarakat yang menamakan dirinya the ruling class.
          Sifat hakikat kekuasaan dapat terwujud dalam hubungan yang simetris dan asimetris.  Masing-masing hubungan terwujud dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat diperoleh gambaran sebagai berikut :

1. SIMETRIS                                   2. ASIMETRIS
a. Hubungan persahabatan          a. Popularitas
b. Hubungan sehari-hari                b. Peniruan
c. Hubungan yang bersifat            c. Mengikuti perintah
    ambivalen
d. Pertentangan antara mereka    d. Tunduk pada pemimpin
    yang sejajar kedudukannya           formal atau informal
                                                          e. Tunduk pada seorang ahli
                                                          f.  Pertentangan antara mereka yang tidak 
                                                              sejajar kedudukannya.
                                                          g. Hubungan sehari-hari

Kekuasaan dapat bersumber pada bermacam-macam faktor, apabila sumber-sumber kekuasaan tsb dikaitkan dengan kegunaannya, dapat diperoleh gambaran sebagai berikut:

Unsur-unsur saluran kekuasaan dan dimensinya
          Ada empat macam unsur-unsur pokok kekuasaan yang biasa digunakan oleh penguasa dalam menjalankan kekuasaan yang ada ditangannya.  Unsur-unsur tsb adalah:
1. Rasa takut; pada seseorang menimbulkan kepatuhan pada
    orang yang ditakutinya, agar terhindar dari kesukaran-
    kesukaran yang akan menimpa dirinya apabila tidak patuh.   
    Rasa takut merupakan perasaan negatif karena tunduk pada
    seseorang dalam keadaan terpaksa.  Rasa takut juga
    menyebabkan orang ybs meniru tindakan –tindakan orang
    yang ditakutinya (matched dependent behavior).  Gejala ini
    tidak mempunyai tujuan konkrit bagi yang melakukannya.
2. Rasa cinta; menghasilkan perbuatan-perbuatan positif.
    Sebab semua orang bertindak sesuai dengan kehendak fihak
    yang berkuasa, untuk menyenangkan semua fihak.  Jadi ada
    titik-titik pertemuan antara fihak-fihak ybs.
3. Kepercayaan; dpat timbul sebagai hasil hubungan langsung
    antara dua orang atau lebih yang bersifat asosiatif. 
    Kepercayaan sangat penting demi kelanggengan suatu
    kekuasaan.
4. Pemujaan; didalam sistem pemujaan, seseorang atau
    sekelompok orang-orang yang memegang kekuasaan,
    mempunyai dasar pemujaan dari orang-orang lain. Akibatnya
    adalah segala tindakan penguasa dibenarkan atau setidak-
    tidaknya dianggap benar.

Dalam pelaksanaannya kekuasaan dijalankan melalui saluran-saluran tertentu, antara lain: 
a. Saluran Militer; dg saluran ini penguasa akan lebih banyak mempergunakan paksaan (coercion) serta kekuasaan militer (military force), dg tujuan utama untuk menimbulkan rasa takut.
b. Saluran ekonomi; dengan menggunakan saluran ini penguasa berusaha untuk menguasai kehidupan masyarakat.  Dg jalan menguasai ekonomi serta kehidupan rakyat tsb, penguasa dapat melaksanakan peraturan-peraturannya serta akan menyalurkan perintah-perintahnya dg dikenakan sanksi-sanksi yg tertentu.
c. Saluran politik;melalui saluran ini penguasa dan pemerintah berusaha untuk membuat peraturan-peraturan yg harus ditaati oleh masyarakat.
d. Saluran tradisi; biasanya saluran yg paling disukai.  Dg cara menyesuaikan tradisi pemegang kekuasaan dg tradisi yg dikenal didalam masyarakat.
e. Saluran ideologi;  biasanya dg mengemukakan serangkaian ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin yg bertujuan untuk menerangkan dan sekaligus memberi dasar pembenaran bagi pelaksanaan kekuasaannya.  Hal itu dilakukan supaya kekuasaan dapat menjelma menjadi wewenang.
f. Saluran lainnya; misalnya alat-alat komunikasi massa surat kabar, radio, televisi, dll.

Dimensi kekuasaan apabila ditelaah, ada empat kemungkinan sebagai berikut:
1.   Kekuasaan yang sah dengan kekerasan
2.   Kekuasaan yang sah tanpa kekerasan
3.   Kekuasaan tidak sah dengan kekerasan
4.   Kekuasaan tidak sah tanpa kekerasan

Cara mempertahankan kekuasaan
          Demi stabilnya kekuasaan, setiap penguasa akan berusaha untuk mempertahannya.  Cara mempertahankan kekuasaan antara lain :
1. Dengan jalan menghilangkan segenap peraturan-peraturan lama, terutama dalam bidang politik, yang merugikan kedudukan penguasa.  Peraturan-peraturan tsb akan digantikan dengan peraturan-peraturan baru yang akan menguntungkan penguasa.  Biasanya pada pergantian penguasa lama dengan penguasa baru.
2. Mengadakan sistem-sistem kepercayaan (belief-systems) yang akan dapat memperkokoh kedudukan penguasa atau golongannya.  Sistem kepercayaan meliputi agama, ideologi, dst.
3.   Pelaksanaan administrasi dan birokrasi yang baik.
4.   Mengadakan konsolidasi horizontal dan vertikal.

Selanjutnya biasanya penguasa juga akan membentuk the ruling class, kecenderungan ini sudah biasa pada semua masyarakat, kekuasaan yang bersifat kumulatif, yaitu kekuasaan yang berkumpul atau bertumpuk dalam satu tangan atau sekelompok orang.  Apabila dalam salah satu bidang kehidupan terdapat orang kuat yang berkuasa, maka timbul suatu pusat kekuasaan (power centre).  Disamping itu akan muncul pusat-pusat kekuasaan lain, bisa saja oposisi.

Untuk memperkuat kedudukan, penguasa dapat menempuh jalan sebagai berikut:
1.   Menguasai bidang-bidang kehidupan tertentu.
2.   Penguasaan bidang-bidang kehidupan dalam masyarakat yang dilakukan dengan paksa dan kekerasan.

Beberapa bentuk lapisan kekuasaan
          Dalam masyarakat terdapat tiga tipe umum piramida kekuasaan yang merupakan pola umum, yaitu: (Robert M. Mac Iver)
a. Tipe kasta; adalah sistem lapisan kekuasaan dengan garis
    pemisah yang tegas dan kaku.  Hampir tidak pernah terjadi
    gerak sosial vertikal, karena garis pemisah antara masing-
    masing lapisan sulit ditembus.
b. Tipe Oligarki; masih mempunyai garis pemisah yang tegas,
    tetapi ada kesempatan bagi warga biasa untuk naik lapisan.  
    Penempatan suatu lapisan selain ditentukan oleh kelahiran
    juga oleh kemampuan seseorang.
c. Tipe demokratis; garis pemisah antara lapisan mobil sekali. 
    Kelahiran tidak menentukan seseorang, yang terpenting
    adalah kemampuan dan juga keberuntungan. 

Wewenang;
          menurut Max Weber adalah suatu hak yang telah ditetapkan dalam suatu tata tertib sosial untuk menetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan, menentukan keputusan-keputusan mengenai persoalan-persoalan yang penting, dan untuk menyelesaikan pertentangan-pertentangan.  Dengan perkataan lain, seseorang yang mempunyai wewenang bertindak sebagai orang yang memimpin atau membimbing orang banyak.  Tekanan wewenang adalah pada hak, bukan pada kekuasaan.  Kekuasaan tanpa wewenang, merupakan kekuasaan yang tidak sah.  Kekuasaan harus mendapatkan pengakuan dan pengesahan dari masyarakat agar menjadi wewenang.
Menurut bentuknya ada tiga macam wewenang, ketiganya dibedakan atas dasar hubungan antara tindakan dengan dasar hukum yang berlaku.  Wewenang tsb yaitu :
1. Wewenang kharismatis (charismatic authority);
    merupakan wewenang yang didasarkan pada charisma, dan
    wewenang ini tidak diatur oleh kaidah-kaidah baik yang
    tradisional maupun rasional.  Pada umumnya bersifat
    irasional.  Wewenang ini dapat hilang apabila pemegang
    wewenang tsb melakukan kesalahan yang merugikan
    masyarakat, sehingga menghilangkan kepercayaan warga.
 
2. Wewenang tradisional (traditional authority); adalah
    wewenang yang dipunyai oleh seseorang atau kelompok
    karena kelompok tsb mempunyai kekuasaan atau wewenang
    yang sudah melembaga.
3. Wewenang rasional/legal (rational/Legal authority);
    adalah wewenang yang disandarkan pada system hukum
    yang berlaku dalam masyarakat. Sistem hukum disini
    diartikan sebagai kaidah-kaidah yang telah diakui serta
    ditaati masyarakat, bahkan telah diperkuat oleh Negara.

Kepemimpinan (leadership);
          adalah kemampuan seseorang (pemimpin/leader) untuk mempengaruhi orang lain (yang dipimpin/pengikut), sehingga orang lain tsb bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tsb.
Kadangkala dibedakan antara kepemimpinan sebagai kedudukan dan kepemimpinan sebagai suatu proses social.  Sebagai kedudukan kepemimpinan merupakan suatu kompleks dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dapat dimiliki oleh seseorang atau suatu badan.  Sebagai suatu proses social, kepemimpinan meliputi segala tindakan yang dilakukan seseorang atau suatu badan yang menyebabkan gerak dari warga masyarakat.
Kepemimpinan ada yang bersifat resmi (formal leadership) yaitu kepemimpinan yang tersimpul dalam suatu jabatan, dan ada pula kepemimpinan karena pengakuan masyarakat dan kemampuan seseorang untuk menjalankan kepemimpinan (informal leadership).
Kepemimpinan menurut ajaran tradisional disosialisasikan melalui pepatah, nasehat, dll.  Contohnya seorang pemimpin adat (penghulu) di Minangkabau digambarkan sebagai sebatang pohon besar, tempat berteduh dari terik matahari, tempat bersandar dikala penat, buahnya dapat menghilangkan lapar dahaga, dst.

Secara sosiologis tugas-tugas pokok seorang pemimpin adalah:
a. Memberikan suatu kerangka pokok yang jelas yang dapat
    dijadikan pegangan bagi pengikut-pengikutnya.
b. Mengawasi, mengendalikan serta menyalurkan perilaku
    warga masyarakat yang dipimpinnya.
c. Bertindak sebagai wakil kelompok kepada dunia di luar
    kelompok yang dipimpinnya.

Cara-cara/metode pelaksanaan kepemimpinan ada tiga macam, yaitu:
1. Otoriter, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
    a. Pemimpin menentukan segala kegiatan kelompok secara
        sefihak
    b. Pengikut sama sekali tidak diajak untuk ikut serta
        merumuskan tujuan kelompok dan cara-cara untuk
        mencapai tujuan tsb
    c. Pemimpin terpisah dari kelompok dan seakan-akan tidak
        ikut dalam proses interaksi di dalam kelompok tsb.
2. Demokratis, dengan ciri sebagai berikut:
    a. Secara musyawarah dan mufakat merumuskan dan
        mencapai tujuan.
    b. Pemimpin secara aktif memberikan saran dan petunjuk-
        petunjuk
    c. Ada kritik positif, baik dari pemimpin maupun pengikut-
        pengikut.
    d. Pemimpin secara aktif ikut berpartisipasi di dalam
        kegiatan-kegiatan kelompok.
3. Cara bebas, dengan ciri sebagai berikut:
    a. Pemimpin menjalankan peranannya secara pasif.
    b. Penentuan tujuan yang akan dicapai kelompok
        sepenuhnya diserahkan kepada kelompok
    c. Pemimpin hanya menyediakan sarana yang diperlukan
        kelompok
    d. Pemimpin berada ditengah-tengah kelompok, namun dia
        hanya berperan sebagai penonton.

          Sebenarnya ketiga kategori tsb diatas dapat berlangsung bersamaan, karena metode mana yang terbaik senantiasa tergantung pada situasi yang dihadapi.  Cara demokratis umpamanya, mungkin hanya dapat diterapkan didalam masyarakat yang warganya mempunyai taraf pendidikan cukup.  Sementara itu cara-cara otoriter mungkin lebih tepat untuk diterapkan didalam masyarakat yang sangat heterogen, sedangkan cara-cara bebas lebih cocok bagi masyarakat yang relatif homogen.

KANDUNGAN LOGAM Pb DALAM TANAMAN KANGKUNG UMUR 3 DAN 6 MINGGU YANG DITANAM DI MEDIA YANG MENGANDUNG Pb

Abstract

Study on Pb Content in 3 Week and 6 Week Old Kangkung (Ipomoea reptans Poir) Planted in Pb containing Media. A study on the content of Pb in kangkung has been conducted. Land kangkung (Ipomoea reptans) was used as the sample, and was planted in hydrophonic media, and watered with Multigrow Complete Plant Food (2000 mg/L) and Pb solution (2 mg/L) twice a day. Samples were taken based on the age (3 and 6 week old), and part of the plant (root and all parts without root). Inductively Coupled Plasma Spectrometer (ICPS) Fison 3410+ was used to measure the Pb content. It was shown that in the plant the accumulation was mostly happened in the root. The 6 week-old plant contained Pb not just in the root (3.36 mg/kg sample) but also in the other part of the plant (2.09 mg/kg sample) and those were exceeded the maximum dietary allowance (2 mg/kg sample) regulated by the Indonesian FDA; while in the 3 week-old plant the Pb content in the root was 1.86 mg/kg sample and in the other part of the plan was 1.13 mg/kg, which is not exceeded the dietary allowance. So it is advisable to harvest the kangkung vegetable at the most of 3 week-old. Keywords: heavy metals, kangkung, lead contamination, contamination in vegetables
Keywords: heavy metals, kangkung, lead contamination, contamination in vegetables

1. Pendahuluan
            Seiring dengan semakin meningkatnya aktivitas di berbagai sektor pembangunan, terutama pada sektor industri, maka masalah pencemaran lingkungan menjadi masalah yang sangat kritis bagi negara maju dan sedang berkembang. Terjadinya pencemaran disebabkan karena pembuangan limbah dari pabrik yang belum mempunyai unit pengolahan limbah, ataupun jika ada kurang memadai sebagaimana disyaratkan oleh pemerintah. Pembuangan limbah (baik padatan maupun cairan) ke daerah perairan menyebabkan penyimpangan dari keadaan normal air dan ini berarti suatu pencemaran dan menyebabkan air sungai menjadi tidak layak untuk digunakan sebagai sumber persediaan air (A.W. Wisnu 1995)  Salah satu logam berat yang banyak mencemari air sungai adalah timbal (Pb) Timbal (Pb)  imerupakan timah hitam dalam bahasa sehari-hari.Dalam bahasa ilmiahnya dinamakan Plumbum, dan logam ini disimbolkan  dengan Pb. Logam ini termasuk kedalam kelompok logam-logam golongan  IV-A pada tabel periodik unsur kimia. Mempunyai unsur atom (NA)82 dengan bobot atau berat atom (BA)207,2.) Karena hebatnya pencemaran Pb pada lingkungan, maka makanan yang dikonsumsi, air yang diminum dan udara yang dihirup kemungkinan besar telah terkontaminasi oleh Pb, sehingga timbal disebut juga sebagai non essential trace element yang paling tinggi kadarnya dalam tubuh manusia (Winarno 1993). Tercemarnya air sungai oleh limbah pabrik yang mengandung Pb menyebabkan tanaman konsumsi yang tumbuh di daerah sungai menjadi tercemar oleh Pb. Seregeg dkk. (Seregeg 1995.) Telah melakukan penelitian terhadap kemampuan beberapa tanaman untuk menyerap logam berat dari air yang tercemar. Ternyata kangkung termasuk salah satu tanaman yang mudah menyerap logam berat dari media tumbuhnya (Salisbury 1995). Yang dapat mengakibatkan menghambat sintesis hemoglobin dan memperpendek umur sel darah merah sehingga akan menyebabkan anemia. Pb juga menyebabkan gangguan metabolisme Fe dan sintesis globin dalam sel darah merah dan menghambat aktivitas berbagai enzim yang diperlukan untuk sintesis heme. Padahal kangkung banyak dikonsumsi dan sering dijumpai tumbuh/ditanam di tanah-tanah kosong di sekitar daerah sungai dengan pengairan yang berasal dari sungai tersebut.
Spesies tumbuhan secara genetik sangat beragam kemampuannya untuk toleran atau tidak toleran terhadap unsur-unsur non essential (Ag, Al, Cd, Hg, Pb, Pt dll.) dalam jumlah yang meracuni. Pada spesies tertentu unsur itu tertimbun di akar dan dibawa sedikit saja ke tajuknya, sehingga pada spesies tertentu akar dan tajuk mengandung unsur tersebut lebih tinggi dari pada yang ditahan oleh spesies lainnya Dengan adanya risiko tercemarnya kangkung oleh logam berat, terutama Pb, maka dipandang perlu untuk meneliti
kandungan Pb dalam tanaman kangkung yang tumbuh ditempat tercemar berdasarkan waktu panen dan bagian tanaman.

2. Metode Penelitian
Bahan yang digunakan: Tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans Poir), ditanam secara hidroponik di Jombang. Asam nitrat p.a., larutan baku Pb 1000 mg/L (E.Merck, Germany), HClO4 p.a. (Riedel de Häen, Germany), air bebas mineral (Laboratorium Fakultas Farmasi UBAYA), gas Argon welding grade (Surabaya Oxygen, Surabaya), pupuk Multigrow Complete Plant Food (P.T. Namarobu Multigro Sejati), pasir, batu apung, polybag, dan kertas saring Whatman no 41.
Alat-alat yang digunakan: Inductively Coupled Plasma Spectrometer (ICPS), Timbangan analitik Sartorius 2842, Oven (Memmert), hotplate, dan alat-alat gelas.
            Penanaman kangkung; biji kangkung disemaikan dalam kotak dengan menggunakan pasir steril, setelah berkecambah diseleksi kecambah yang bagus dan hasil seleksi dipindah ke polybag untuk ditanam dengan menggunakan media batu apung dan pasir. Setiap pagi dan sore disiram dengan larutan pupuk sebanyak 300 ml (konsentrasi 2000 mg/L) [Slamet 1993] dan larutan pupuk yang mengandung logam Pb 2 mg/L. Tanaman dipanen pada umur 3 minggu dan 6 minggu. Tanaman kangkung yang berumur 3 dan 6 minggu diambil sebanyak 100 gram, kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan tanah yang melekat, dan dibilas dengan air bebas mineral. Dipisahkan antara akar dengan seluruh bagian tanaman, lalu dikeringkan, kemudian diserbuk halus dengan mortir. Serbuk halus dipanaskan di oven 60-70o C sampai bobot konstan. Pada uji % perolehan kembali digunakan sampel dari tanaman kangkung yang tidak mengandung Pb.
Sebagai larutan baku induk digunakan larutan baku Pb 1000 mg/L dalam HNO3 0,5 M. Dari larutan tersebut dibuat larutan baku kerja dengan konsentrasi 1, 3, 5, 10, 15, 20, dan 30 mg/L. Kemudian diukur intensitas masing-masing baku kerja menggunakan ICPS pada panjang gelombang 283,3 nm dan dihitung persamaan garis regresi serta linieritasnya.
Ditimbang 1 gram sampel serbuk halus dari akar dan seluruh bagian tanaman tanpa akar dalam krus porselin, kemudian ditambahkan 10 ml HNO3 pekat dan 3 ml larutan HClO4 60%, lalu dipanaskan di atas hotplate pada suhu 100 – 120oC sampai buih habis, dan HNO3 hampir mengering, lalu didinginkan. Hasil destruksi ditambah 5,0 ml larutan Pb 200 mg/L (standar adisi) dan larutan HNO3 2%, dan dipindahkan secara kuantitatif ke dalam labu ukur serta ditambahkan larutan HNO3 2% sampai volumenya menjadi 100,0 ml, dikocok homogen dan disaring [6,7].Kadar Pb diamati dengan ICPS pada panjang   gelombang 283,3 nm.
Prosedur kerja uji % perolehan kembali baik untuk bagian akar maupun seluruh bagian tanaman tanpa akar dilakukan sama seperti pada penyiapan sampel, hanya saja tanaman kangkung yang digunakan adalah tanaman yang tidak mengandung Pb (ditanam pada media yang tidak mengandung Pb). Kadar Pb dalam sampel dihitung berdasarkan % perolehan kembali. Untuk melihat perbedaan kadar Pb dalam masing-masing bagian sampel digunakan analisis statistik Anava Faktorial dengan faktor I (bagian tanaman) dan faktor II (waktu panen) (α= 0,05) yang dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT).

3. Hasil dan Pembahasan
Sampel yang digunakan adalah tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans Poir) yang ditanam secara hidroponik,sehingga lebih mudah dalam melakukan pemeliharaan dan pengontrolan dalam pemberian asupan Pb. Kadar logam Pb yang digunakan untuk penyiraman dibuat sebesar 2 mg/L, sesuai dengan SK Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup No.Kep-02/Men KLH/I/1988 [8] tentang batas maksimal kadar logam Pb yang diperbolehkan pada air untuk keperluan pertanian.
Kangkung dipanen pada umur 3 dan 6 minggu, karena pada umur 3 minggu tanaman kangkung sudah layak untuk dipanen, sedangkan secara umum pemanenan kangkung dilakukan pada saat tanaman berumur 6 minggu.
Persamaan garis regresi untuk larutan baku kerja Pb:     y = 0,132717223 + 0,343469151 x Limit deteksi (LD) = 1,118 bpj. Limit kuantitasi (LK) = 3,726 bpj dengan r = 0,999465248.
Kadar air rata-rata kadar air dalam akar kangkung umur 3 minggu adalah 91,52% dan untuk umur 6 minggu adalah 93,04%. Rata-rata kadar air dalam seluruh bagian kangkung tanpa akar umur 3 minggu adalah  91,47% dan untuk umur 6 minggu adalah  93,03%.
Analisis kandungan Pb dalam media penanaman dan pupuk serta tanaman kangkung yang ditanam pada media yang tidak mengandung Pb tidak menunjukkan adanya kandungan Pb. Penetapan harga % perolehan kembali dan kandungan Pb dalam sampel kangkung dapat dilihat pada Tabel 1 – 3.
Dari Tabel 4 tampak bahwa kandungan Pb dalam  bagian tanaman tanpa akar yang dipanen pada umur 3 minggu adalah sebesar 1,86 mg/kg, sedangkan yang dipanen pada umur 6 minggu mengandung Pb sebesar 2,09 mg/kg berat basah. Batas maksimal yang diperbolehkan dalam sayur dan hasil olahannya adalah 2 mg/kg sayuran (Keputusan Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan no 03725/B/SK/VII/89) [9]. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tanaman kangkung darat yang ditanam dengan pengairan yang mengandung Pb sebesar 2 mg/L selama 6 minggu mempunyai kadar Pb melebihi batas maksimal yang diperbolehkan.

Tabel 1. Harga % Perolehan Kembali Pada Akar dan Seluruh Bagian Tanaman
Replikasi
Seluruh bagian tanaman tanpa akar
Akar
Kadar Pb yang
ditambahkan
(bpj)
Kadar Pb yang
ter-amati (bpj)
% Perolehan
Kembali
Kadar Pb yang
ditambahkan
(bpj)
Kadar Pb yang
teramati (bpj)
% Perolehan
Kembali
1
9,00
8,59
97,58
9,30
8,99
96,70
2
9,18
8,95
98,96
9,30
8,96
96,44
3
8,96
8,86
95,47
9,35
8,99
96,07

Rata-rata = 97,34% ± 1,76%
Rata-rata = 96,40% ± 0,32%

Tabel 2. Kadar Logam Pb Dalam Tanaman Kangkung Umur 3 Minggu
No
Seluruh Tanaman Tanpa Akar
Akar
Bobot sampel (g)
Kadar Pb
(mg/kg sample
kering)
Kadar Pb
(mg/kg sample
basah)
Bobot Sampel (g)
Kadar Pb
(mg/kg sample
kering)
Kadar Pb
(mg/kg sample
basah)
1
0,9994
10,55
0,90
0,5023
20,64
1,75
2
1,0083
12,00
1,02
0,5031
23,72
2,01
3
1,0107
17,33
1,48
0,5025
21,41
1,82

Kadar rata-rata = 1,13 ± 0,30 mg/kg sampel basah
Kadar rata-rata = 1,86 ± 0,13 mg/kg sampel basah

Tabel 3. Kadar Logam Pb Dalam Tanaman Kangkung Umur 6 Minggu
No
Seluruh Tanaman Tanpa Akar
Akar
Bobot sampel (g)
Kadar Pb
(mg/kg sample
kering)
Kadar Pb
(mg/kg sample
basah)
Bobot Sampel (g)
Kadar Pb
(mg/kg sample
kering)
Kadar Pb
(mg/kg sample
basah)
1
0,5019
29,75
2,07
0,5051
48,97
3,41
2
0,5023
31,26
2,18
0,5004
48,65
3,39
3
0,5014
28,95
2,02
0,5004
47,07
3,28

Kadar rata-rata = 2,09 ± 0,08 mg/kg sampel basah
Kadar rata-rata = 3,36 ± 0,07 mg/kg sampel basah

Tabel 4. Analisis Statistik Kadar Pb Dalam Akar dan Seluruh Bagian Tanaman     Tanpa Akar Kangkung Umur 3 dan 6 Minggu
Jenis Sampel
Rata-rata kadar Pb
(mg/g sampel basah)
Seluruh bagian tanaman tanpa akar umur 3 minggu
1,13 a
Akar umur 3 Minggu
1,86 ab
Seluruh bagian tanaman tanpa akar umur 6 minggu
2,09 b
Akar Umur 6 minggu
3,36 c
BNT 5% = 0,881

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berarti berbeda     nyata   dengan uji BNT pada α  = 0,05

Logam-logam seperti Al, Cd, Cu, Fe, Hg, Mn, Pb, dan Zn jika terdapat dalam konsentrasi yang tinggi akan cenderung terakumulasi di akar [10]. Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa sampel akar umur 6 minggu mempunyai kadar Pb yang paling tinggi dibandingkan dengan seluruh bagian tanaman lainnya, maupun akar umur 3 minggu. Dengan demikian tampak bahwa terjadi akumulasi Pb seiring dengan berjalannya waktu, terutama dalam akar. Semakin tua umur tanaman semakin tampak perbedaan kandungan Pb dalam akar dan dalam bagian tanaman lainnya. Pada tanaman umur 3 minggu tidak ada  perbedaan kadar Pb antara akar dan bagian tanaman lainnya. Demikian juga antara kandungan Pb dalam akar umur 3 minggu dan dalam bagian tanaman lain umur 6 minggu tidak tampak perbedaan.

4. Kesimpulan
            Kandungan Pb dalam tanaman kangkung yang tumbuh pada media yang terkontaminasi Pb secara terus menerus, dan dipanen pada umur 6 minggu lebih tinggi dibanding dengan dalam tanaman yang dipanen pada 3 minggu, dan akumulasi Pb yang terbesar terjadi pada akar tanaman kangkung. Untuk memperkecil kontaminasi Pb dalam kangkung yang akan dikonsumsi disarankan agar kangkung dipanen maksimum pada umur 3 minggu, meskipun sebaiknya diusahakan untuk meminimalkan kontaminan

Daftar Acuan
[1]  A.W. Wisnu, Dampak Pencemaran Lingkungan, cetakan pertama, Andi      
       Offset, Jakarta, 1995.
[9]  Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Keputusan Direktur Jenderal      
       Pengawasan Obat dan Makanan No. 03725/SK/B/VII/89 tentang Batas
       Maksimal Cemaran Logam Dalam Makanan, Depkes RI, Jakarta, 1989.
[4]  F. B. Salisbury, C. W. Ross, Fisiologi Tumbuhan, terjemahan, Penerbit ITB,
      Bandung,1995.
[2]  F. G. Winarno, Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen, Gramedia Pustaka
      Utama, Jakarta, 1993.
[3]  I. G. Seregeg, M. S. Saeni, Media Litbangkes V (1995) 18.
[7]  I. Kohar, P. H.  Hardjo, L. Wijaya, Jurnal Ilmiah Sains & Teknologi I (2005)     
      1.[10] J. B. Jones, Jr., B. Wolf, H. A.  Mills, Plant Analysis Handbook, Micro-
      Macro Publishing Inc., USA, 1991.
[6] Kenneth Helrich (Ed.), Official Methods of Analysis, 15th ed., vol. 1, The    
      Association of Official Analytical Chemists Inc. (AOAC), Maryland, 1990.
[8]  Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Keputusan No.
      02/Men KLH/1988 tentang Batas Maksimal Kadar Logam Pb yang
      Diperbolehkan pada Air untuk Keperluan Pertanian, Kementrian Negara
      Kependudukan dan Lingkungan  Hidup, Jakarta, 1988.
[5] Slamet Soeseno, Bercocok Tanam Secara Hidroponik, cetakan keenam, PT     
     Gramedia, Jakarta, 1993.